//
you're reading...
Business, Informasi, Insight

Cerita Petani Kopi, Proses, Kualitas dan Nilai Tambah

Proses pengolahan kopi pada dasarnya hanya ada proses basah dan proses kering. Tetapi ada bentrokan istilah antara petani yang menjadi guru saya dan literatur dunia. Ketika saya masuk dalam industri kopi beberapa bulan yang lalu, petani dan pelaku usaha kopi di Indonesia jadi sumber informasi pertama saya. Terima kasih kepada mereka yang dengan senang hati berbagi ilmu tentang itu. Lalu mulailah saya bertemu bentrokan istilah ketika mulai mengkaji dari sumber lainnya. Proses basah yang selalu disebut oleh petani, ternyata berbeda dengan proses basah yang dijelaskan di berbagai literatur. Meskipun begitu, wikipedia sudah memberikan pencerahan tentang adanya proses giling basah yang ternyata adalah proses semi-kering yang biasa disebut oleh petani sebagai wet process (proses basah). Proses semi-kering ini juga dijelaskan telah dikenal penikmat kopi di dunia sebagai proses yang biasa dilakukan oleh petani kopi Sumatra, Brazil, Ethiopia, dan Costa Rica (Roastmagazine, 2007).

Perbedaan istilah ini membingungkan bagi kami yang baru belajar. Ketika belajar, inginnya memang didapat informasi sebanyak-banyaknya. Tapi kalau terlalu banyak informasi tanpa dasar yang jelas, hanya menuh-menuhin otak dan menambah jumlah orang yang sok tahu tentang kopi saja. Kami perlu dasar-dasar pengetahuan yang jelas untuk dapat mengerjakan proses pengolahan kopi Indonesia dengan lebih baik, dan menghasilkan nilai tambah terhadap produk Indonesia. Sudah pasti kalau bicara tentang nilai tambah, dampaknya bisa ke mana-mana. Tapi di sini saya tidak mau jadi orang yang sok tahu tentang kopi, karena saya juga baru terjun di industri ini kurang dari 1 tahun.

Kalau kita cari dengan bantuan google, Indonesia sudah menjadi pengekspor kopi Robusta yang tertinggi, apalagi sudah masuk dalam peringkat 3 besar dunia sebagai penghasil kopi. Bisa dilihat juga betapa robusta sudah jadi primadona pada ekspor kopi Indonesia dengan melihat standar ekspor untuk Robusta yang dikeluarkan SNI sudah berevolusi lebih rinci dibanding Arabika.

Tapi jangan sampai Indonesia terbuai dengan kuantitas. Dugaan sok tahu saya setelah baca sana sini menyimpulkan bahwa dibanding Robusta, sebenarnya Arabika dapat memberikan nilai tambah lebih besar dari Robusta dengan harganya yang bisa berkali-kali lipat di pasaran.

Saatnya sudah tiba untuk meningkatkan kualitas, tidak hanya bangga dengan kuantitas saja. Ada kopi yang lebih baik dari Robusta, yaitu Arabika. Tapi Arabika memerlukan ketinggian minimal 1000m di atas permukaan laut untuk tumbuh optimal. Dataran tinggi di Indonesia tidak luas dan cenderung berada di daerah pegunungan terjal, sehingga kebun kopi Arabika ini sedang berjuang untuk bertambah jumlahnya, dibandingkan dengan Robusta yang sudah melimpah di Indonesia. Tantangannya adalah menjaga keberadaan daerah yang mayoritas hutan ini agar tetap lestari tidak terjamah ekspansi bisnis properti atau bisnis lainnya yang merusak kawasan hutan.

Kopi adalah tanaman batang keras, yang tidak merusak kawasan hutan. Masyarakat hutan dapat memanfaatkan hasil buah kopi tanpa merusak hutan, pohon naungannya juga dapat menambah jumlah pepohonan di kawasan hutan yang makin lama makin botak karena perilaku penjarah hutan. Menanam kopi di dataran tinggi atau pegunungan, khususnya arabika yang memiliki nilai lebih dibanding robusta akan memberikan dampak lingkungan dan juga kesejahteraan bagi masyarakat. Tapi seberapa banyak yang mau memikirkan soal masyarakat dan lingkungan dibandingkan memikirkan perutnya sendiri atau kelompoknya? Ini dia arena perangnya. Tapi tenang, pemainnya sudah banyak juga yang menaruh kepeduliannya untuk masyarakat daerah kopi ini. Misalnya Organisasi Fair Trade, Rainforest, dsb.

Kembali ke nilai tambah, proses yang baik untuk menghasilkan nilai tambah dari kopi, memerlukan perhatian yang mendalam mulai dari bibit kopi, pengolahan, biji kopi bahkan sampai kopi itu masuk menyeruput lewat bibir dan lidah orang. Perhatian orang-orang yang terlibat dalam industri kopi ini, dapat diapresiasi oleh para penikmat kopi yang berani merogoh koceknya untuk mendapatkan kopi terbaik karena manfaatnya yang luar biasa untuk mereka. Bentuk apresiasi dan perhatian untuk menghasilkan kopi terbaik menciptakan hubungan saling menguntungkan antara penikmat kopi dengan pekerja di industri kopi.

Apresiasi dari penikmat kopi bisa diasumsikan berasal dari manfaatnya. Bentuk manfaat yang paling nyata dari Kopi adalah membantu produktifitas orang yang meminumnya. Negara maju seperti Prancis, Australia, Inggris, Amerika membuka kedai kopi hanya sampai pukul 6 atau 7 PM. Kopi menjadi gaya hidup yang mendukung produktifitas mereka. Ok, itu hanya dugaan saya setelah pertama kali mendengar hal ini. Silahkan dibuktikan sendiri ke sana. Tapi coba kita pikirkan sebentar saja, kenapa mereka tidak buka sampai tengah malam atau buka 24 jam? Bahkan pada waktu makan siang kedai kopi ditutup (Kata Mas Ben di film Filosofi Kopi). Dugaannya adalah, mereka sudah tahu manfaat kopi sebagai minuman yang mendukung kinerja mereka. Jadi ketika saatnya sudah bukan untuk bekerja lagi, kopi sudah tidak perlu lagi dikonsumsi. Saatnya mereka beristirahat, bahkan kabarnya pub dan bar yang dibuka selepas pukul 7. Tempat-tempat untuk beristirahat dan bersantai, bukan tempat minum kopi yang kabarnya bisa menjadi steroid dan meningkatkan produktifitas kerja mereka. Selain alasan ini, pemerintah juga kabarnya memikirkan benar-benar peraturan bekerja di negaranya, jangan sampai pekerjanya terlalu berlebihan bekerja.

Masyarakat Indonesia, tidak tahu apakah ini benar, mungkin perlu ada kajian dari antropolog, masih menganggap kopi sebagai bagian gaya hidup yang bermanfaat untuk membangun kehidupan sosialnya dan alasan untuk saling bertemu. Kopi dikonsumsi tidak terpaku waktu, bahkan diminum tengah malam oleh orang yang dibilangnya ronda, padahal main kartu/gaple atau teman makan kacang. Konsumsi kopi dalam bentuk espreso juga jarang ditemui, adanya dicampur dengan latte, cappucino, atau dicampur lainnya yang kemungkinan kafeinnya lebih sedikit lagi, mungkin jauh lebih kecil dari 100 mg. Manfaat sebenarnya dari kopi akan benar-benar dirasakan jika dikonsumsi pada waktu yang tepat (kopikeliling.com, 2015) dan takaran yang tepat (LPPM IPB, 2010). Tetapi masyarakat kita belum sampai pada kebiasaan meminum kopi untuk mencari manfaat terbaiknya. Kedai kopi di Indonesia sekarang sedang menjamur, kalau perlu dibuka 24 jam dengan WIFI sehingga pengunjung kedai kopi berlama-lama di situ, bincang-bincang dan melupakan pekerjaan mereka. Kecuali bagi mereka yang memang mengerjakan tugas atau pekerjaan, ya 10 menit kerja, 2 jam ketawa ketiwi lah ya. Lagipula kopi di kedai kopi juga tidak semua memperhatikan kualitasnya, paling juga yang diseduh itu kopi reject campuran jagung bakar atau kopi luwak padahal luwaknya lagi ngga makan kopi. Boro-boro tahu bagaimana rasa kopi yang dibikin dengan proses kering/alami/natural atau proses basah, atau dengan proses semi kering yang membuat bingung tadi.

Kalau saja di Indonesia ini semakin menuju keseimbangan antara jumlah penikmat kopi yang mengapresiasi kopi dan jumlah petani kopi yang termotivasi untuk menghasilkan kopi terbaik. Keseimbangan ini akan indah, bagi penikmat kopi, petani kopi, dan orang-orang di antaranya.

About sidewa

Saya hanya seorang manusia biasa yg dipanggil Dewa sejak kecil yang gemar memandang langit² (berkhayal & berpikir).

Discussion

2 thoughts on “Cerita Petani Kopi, Proses, Kualitas dan Nilai Tambah

  1. Salam kenal mas Dewa. Terimakasih sudah berteman via web. Ditunggu diskusi ringannya mengenai kopi (y)

    Posted by aalbahry | June 12, 2015, 1:49 pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Jumlah pukulan

  • 66,485 pukulan

Gravatar


kayanganku is my personal blog. nothing special or specific niche. Just me and my fraction of thought.

Kicau si Dewa (Twitter)

%d bloggers like this: