//
you're reading...
Giving, Informasi, Insight, Management

Mari Belajar untuk Berbagi dengan Lebih Strategis

Dua bulan lalu diberitakan bahwa Indonesia adalah Negara paling bahagia ke 12 di dunia menurut hasil analisa dari survey yang disebarkan Gallup, sebuah lembaga riset internasional. Seorang peneliti yang juga peraih penghargaan Nobel Daniel Kahnemann dan Angus Deaton seorang ekonomis terkemuka mengatakan bahwa sebenarnya kebahagian itu muncul dari dua keadaan psikologi yang abstrak, yaitu kesejahteraan emosional dan evaluasi kehidupan. Pertumbuhan pendapatan juga meningkatkan kepuasan hidup, tetapi hanya sementara, dikatakan Veenhoven pada 1991, peningkatan pendapatan hanya memberikan kebahagiaan hingga kebutuhan dasar terpenuhi, melewati batas ketika pendapatan sudah membuat orang-orang tidak kelaparan lagi, anak-anak mereka tidak meninggal karena penyakit yang sebenarnya bisa dicegah, dan kemiskinan yang hakiki telah terhapuskan. Ini juga berlaku untuk kita, para lulusan pascasarjana, ditambah dengan kejelasan masa depan setelah kelulusan ini, kalau bisa naik pangkat cepat, naik gajinya, bisa punya rumah sendiri, istri bahagia. Lewat dari batasan-batasan tadi itu, pendapatan sudah tidak relevan lagi terhadap kebahagiaan.

Ada masukan untuk ITB, dikaitkan dengan kajian literatur tentang alumni yang saya kerjakan, ada bagusnya mengirimkan survey ke alumni yang sedang bahagia ini, karena konon kabarnya kebahagiaan yang mereka dapatkan dalam hidup mereka salah satunya berkat kontribusi alma maternya juga. Beberapa diantaranya naik pangkat karena sudah mendapat cap gajah, nikah dengan teman sekelas yang ketemu saat kuliah di pascasarjana, atau kesempatan melanjutkan ke tingkat pendidikan yang lebih tinggi lagi. Sebaiknya survey dikirimkan sebelum yang bersangkutan benar-benar melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi lagi, nanti alma mater kelihatan kontribusinya terhadap ketidakbahagiaan mereka.

Bukan hanya Indonesia adalah Negara yang masuk dalam peringkat Negara bahagia di dunia, Data Charities Aid Foundation 2012, Indonesia menempati peringkat 7 besar dalam World Giving Index dengan USA di peringkat 5, Belanda di peringkat 6 dan United Kingdom di peringkat 8. Peringkat pertama adalah Negara Australia. Indonesia memiliki score 52% penduduk Indonesia melakukan kegiatan amal. Dengan 71% atau 126 juta orang memberikan donasi, sebanyak 41% meluangkan waktu untuk kegiatan amal dan sebanyak 43% menolong orang asing atau tidak dikenalnya. Untuk kategori memberikan donasi, Indonesia peringkat ke-lima di dunia. Tiga kelompok usia yang paling sering memberikan donasi adalah usia 25-34 (73%), lebih dari 50 tahun (72%) dan umur 35-49 tahun (71%).

Bisa kita lihat di sosial media dan pemberitaan di media massa, kelompok aktifitas sosial nirlaba banyak betebaran dalam hal berbagi dan berkontribusi. Misalnya Indonesia mengajar yang mengisi kekurangan guru sekolah dasar di daerah terpencil, Akademi Berbagi yang berbagi pengetahuan wawasan dan pengalaman, diet kantong plastik mengajak masyarakat lebih bijak menggunakan kantong plastik, komunitas 1001 buku yang mengelola taman bacaan anak, nebengers yang mengurangi penggunaan kendaraan dengan berbagi kursi kosong, dan masih banyak kegiatan lainnya. Memang dalam kajian literature dikatakan bahwa partisipasi akan tinggi terjadi ketika ada gerakan sosial dengan tingkat pemahaman yang sama di kelompok masyarakat tertentu. Bahkan di lingkungan ITB sendiri, banyak dosen yang meneliti, tidak hanya meneliti untuk mengejar publikasi dan mendapatkan nilai untuk kenaikan jabatan, tetapi mencari manfaat dari penelitian yang dikerjakannya. Mungkin banyak dari teman-teman wisudawan yang merasakan hal ini ketika menjalani penelitian bersama dosen atau peneliti lain di kampus ITB ini.

Pada tahun 2005, ada sebuah buku berjudul The Power of Giving, dikatakan oleh penulis bahwa tulisannya sudah siap cetak, ketika bencana tsunami di Aceh dan Asia Tenggara memperlihatkan sebuah pelaksanaan bantuan kemanusiaan yang terbesar sepanjang sejarah. Bantuan tidak hanya berguna untuk yang mengalami kesulitan, tetapi juga menjadi pengubah kehidupan bagi yang memberikan. Berbagi adalah kunci dari kebahagiaan. Kemungkinan memiliki korelasi yang kuat terhadap kepuasan emosional dan evaluasi hidup yang lebih baik. Penelitian telah dilakukan tentang kontribusi membantu atau berbagi ini dengan peningkatan jumlah endorphin yang dilepaskan, meningkatkan system kekebalan tubuh, mempercepat penyembuhan paska operasi, menambah kemungkinan hidup lebih lama bagi penderita AIDS, bahkan penulis mengatakan bahwa menjadi sukarelawan adalah program penurunan berat badan yang paling ampuh. Mungkin saya terlalu banyak menjadi sukarelawan melebihi dari yang saya sadari.

Lalu setelah memberi, apakah sudah selesai sampai di situ saja? Kembali ke konsep kebahagiaan di awal tadi, apakah sudah terpenuhi batasan-batasan kebahagiaan tadi. Apakah yang diberi sudah menerima kebahagiaan yang hakiki, bukan lagi kebahagiaan yang bersifat sementara. Apakah pengemis yang kawan-kawan temui di pinggir jalan sudah bahagia dengan bertambahnya pendapatan mereka sekitar puluhan ribu atau mungkin ratusan ribu di hari itu. Ya mungkin mereka bahagia, bisa tambah tabungan di kantong plastik mereka hingga beberapa juta di akhir bulan nanti.

Pernahkah yang memberi, meminta kembali hasil dari apa yang diberi itu? Tentu saja tidak, karena itu adalah keikhlasan. Tapi tahukah kawan-kawan arti keikhlasan itu sesungguhnya? Ikhlas adalah pamrih sebesar-besarnya, meminta hanya kepada Allah SWT, Tuhan YME. Ketika kita memberi, apakah pernah kita mendoakan dampak dan perubahan yang terjadi kepada pihak yang diberi? Tentu saja pernah. Kita mendoakan ketika memberikan receh, kalau tidak ketangkap tangan denda bagi pemberi sumbangan, kepada pengemis yang sedang panas-panasan menggendong anaknya, keesokannya biar tidak usah lagi mengemis lagi. Lalu apa hasilnya? Besok tetap saja dia mengemis, dan itu terjadi setiap hari, berbulan-bulan, bahkan anak kecil atau kakek dan neneknya diajak juga. Kalau bisa bahkan ada regenerasi.

Ketika kita memberi, kita juga dituntut untuk memahami situasi yang pihak diberi alami. Kondisi yang sebenar-benarnya, bukan kondisi yang kita pikir kita pahami dengan melihat sekilas permasalahan yang ada. Pemahaman perlu kepekaan tingkat tinggi jika memiliki waktu yang terbatas untuk proses memahami ini. Kita semua memang memiliki kekurangan. Kekurangan yang paling besar adalah berkaitan dengan bagaimana kita menilai orang. Orang yang unggul dari kita, dicari kekurangannya. Mungkin mau menghibur diri? Mungkin berpikir dia hebat di satu bidang, tapi saya unggul daripadanya di bidang saya. Dia lebih kaya, tapi saya lebih bahagia. Atau kelebihan orang lain, misalnya dalam harta, dijadikan patokan hidup. Kalau tetangga membeli mobil baru, setidaknya kita membeli mobil yang kelihatan baru atau sewa beberapa hari agar kelihatan mengikuti trend.

Seberapa sering kita menilai orang lain lebih bahagia dari kita dengan bertambahnya kekayaan tetapi gagal melihat sebenarnya mereka bahagia karena anak-anaknya sehat, istrinya bahagia dan mereka hidup rukun. Hal ini disebabkan oleh rasa kasih sayang dan perhatian yang orang tersebut berikan. Atau karena banyak orang yang datang ke rumahnya atau ke kantornya yang mengucapkan terima kasih atas bantuan yang telah dia dan keluarganya berikan. Kalau menjadi pejabat Negara sebaiknya ucapan terima kasih ini dilaporkan ke KPK, daripada menjadi kasus nantinya. Ketika seseorang mulai memperoleh kepekaan untuk memahami kebutuhan orang lain, tantangannya adalah sumber daya yang terbatas. Mungkin tidak banyak waktu yang dapat diluangkan untuk memberikan bantuan, dana juga tidak banyak yang diberikan.

Seseorang dituntut untuk berpikir strategis, memilih dari sekian banyak kesempatan memberi bantuan, yang memiliki dampak lebih besar dari yang ada. Organisasi-organisasi nirlaba dengan laporan yang begitu mendetail memperlihatkan dampak dari kegiatannya dan rencana yang hebat untuk memberi dampak yang lebih besar lagi, organisasi inilah yang akan menjadi pilihan untuk pemberi donasi besar. Dibandingkan menyelipkan recehan ke kotak amal, kenclengan masjid atau badan amal yang melaporkan pendapatan dan pengeluaran rutin bulanan saja. Tercatat organisasi yang paling besar mendapatkan donasi lewat internet, secara rutin, bukan hanya mendapatkan donasi sekali saja tetapi donasi terencana. adalah kelompok masyarakat peduli penyakit Leukemia dan Lymphoma hingga sebesar 98juta US Dollar pada tahun 2013.

Karena keterbatasan waktu, pemberi donasi juga sering kali memberikan donasi kepada orang, orang yang dipercayai dapat menjadi misionaris dari bayangan masa depan yang pemberi donasi bayangkan dapat terjadi bagi pihak yang diberi bantuan. Bantuan tidak hanya dapat berbentuk uang atau waktu. Banyak wujud lainnya seperti kepemimpinan, harapan, pengetahuan, kasih sayang, keahlian, kehidupan, kesehatan, perhatian, nasihat atau bahkan hanya dalam bentuk sentuhan, seperti sebuah sentuhan seorang ayah di bahu anaknya yang memberikan harapan dan tanda pengertian. Bahkan memberi bantuan berupa kasih sayang tidak selalu mudah dilakukan harus terus kita upayakan.

Mari kita bagikan sebesar-besarnya anugerah yang kita dapatkan untuk seluas-luasnya penduduk di negeri ini, bahkan seluas populasi penduduk dunia. Tetapi tetap, marilah kita berharap dan memilih dengan bijak sehingga bantuan yang kita berikan dapat berdampak sebesar-besarnya. Mengubah tatanan sosial dan ekonomi masyarakat, dari lingkaran terkecil di keluarga hingga pada Negara dan bangsa-bangsa. Memberikan pengaruh untuk orang lain, agar ikut merasakan kebahagiaan dengan lebih banyak membagi. Untuk sekedar menaruh senyuman di wajah, atau sekedar menurunkan berat badan.

About sidewa

Saya hanya seorang manusia biasa yg dipanggil Dewa sejak kecil yang gemar memandang langit² (berkhayal & berpikir).

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Jumlah pukulan

  • 66,485 pukulan

Gravatar


kayanganku is my personal blog. nothing special or specific niche. Just me and my fraction of thought.

Kicau si Dewa (Twitter)

%d bloggers like this: