//
you're reading...
Uncategorized

Kejahatan Pintar Menuntut Kita Untuk Lebih Pintar

Bonus demografi mungkin sudah jadi kutukan untuk Indonesia. Makin banyaknya perilaku kejahatan yang “pintar” bisa jadi satu indikasi. Pencurian/perampokan motor atau mobil punya berbagai skema yang mengagetkan, dari lemparan telur ke depan kaca sampai ke penipuan ban bocor. Pembobolan atau penipuan di ATM atau duplikat Kartu Kredit. Penipuan lewat SMS atau Telpon, kita sudah berulang kali dengar. Ini ada tambahan lagi, berpura-pura menjadi Dokter untuk mengambil/menculik bayi yang baru lahir. Pasti perlu waktu untuk menyiapkan penipuan/kejahatan-kejahatan tersebut. Mungkin saja pelakunya pemuda dengan tingkat pendidikan yang lumayan. Bisa memikirkan, merencanakan dan melaksanakan kejahatan dan penipuan ini hingga berhasil sudah pasti lebih pintar daripada kejahatan yang biasa seperti penjambretan, perampokan dan lain sebagainya. Biasanya anak-anak muda yang punya inovasi kejahatan, bukan tidak mungkin juga orang yang lebih tua yang merencanakan, tapi mungkin lebih banyak anak-anak muda. Ini baru asumsi awal.

Ada juga pemuda-pemuda yang begajulan salah pergaulan, ikut geng motor (aliran keras), cabe-cabean atau apalah itu namanya sehingga meresahkan masyarakat. Kelompok ini adalah bagian dari komunitas kita, mungkin juga salah kita yang kurang memperhatikan kegiatan-kegiatan pemuda-pemuda penerus bangsa ini. Dampaknya bisa hilang generasi yang baik, yaitu yang bermoral dan juga memiliki kapasitas intelektual yang besar/tinggi. Kurang perhatian memang bisa jadi masalah. Terlalu diperhatikan juga menumbuhkan sikap pemberontak. Memang susah-susah gampang ya.

Kembali tentang kejahatan pintar. Pasti ada alasan mereka melakukan itu. Mungkin sudah putus asa cari uang melalui jalan yang benar (mungkin juga cara-cara itu mereka anggap benar juga). Mentok sana mentok sini lamar sini lamar sini tidak diterima, mau usaha pikirannya tidak punya modal. Sudah usaha kecil-kecilan dengan dagang kaki lima pun diusirin Satpol PP. Akhirnya dengan alasan kepepet, himpitan ekonomi, cara yang ada meskipun tidak baik, merugikan orang lain, dikerjakan. Bahkan yang “tidak terlalu” merugikan bisa dikerjakan, misal saja pura-pura jadi pengemis.

Lalu bagaimana mengatasinya? Masyarakat yang tidak mau jadi korban harus bertambah pintar dan waspada. Kepolisian dan penegak hukum harusnya tidak mau kalah pintar oleh penjahat. Hakim dan jaksa perlu juga lebih pintar dan bijak dalam memutuskan perkara. Pejabat dari pemerintah pusat sampai pemerintah daerah bahkan sampai RT dan RW setempat juga dituntut lebih pintar. Ini bagus dampaknya, jadi semua dituntut lebih pintar, tidak kalah pintar dari penjahat-penjahat pintar.

Mari memintarkan diri dan orang-orang sekitar kita. Mudah-mudahan kita tidak kalah pintar dari penjahat-penjahat pintar.

About sidewa

Saya hanya seorang manusia biasa yg dipanggil Dewa sejak kecil yang gemar memandang langit² (berkhayal & berpikir).

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Jumlah pukulan

  • 66,538 pukulan

Gravatar


kayanganku is my personal blog. nothing special or specific niche. Just me and my fraction of thought.

Kicau si Dewa (Twitter)

%d bloggers like this: