//
you're reading...
Uncategorized

Ketika hujan (dan banjir) jadi keseharian

Hujan terus beberapa bulan ini, sampai banjir melanda di ibukota dan beberapa kota di Indonesia. Hujan bukan sesuatu yang baru untuk Negara maritim Indonesia ini. Tetapi kenapa sepertinya kita tidak siap/menyiapkan diri menghadapi hujan yang sudah jadi keseharian?

Manusia punya kemampuan beradaptasi yang tinggi dibandingkan makhluk hidup lainnya. Ketika makhluk hidup lain tinggal di habitat yang sangat berbeda dibandingkan habitat awalnya, pilihannya mungkin mati atau pindah ke habitat lain. Manusia berbeda, akalnya digunakan untuk membiasakan diri hidup di habitat yang berbeda ini. Tergantung motivasi juga, seberapa besar kemauan atau kebutuhan dirinya untuk beradaptasi tinggal di habitat yang keras.

Di mana ada kemauan pasti ada jalan. Mungkin ini bisa jadi perumpamaan yang tepat untuk menjelaskan kemampuan adaptasi manusia. Hanya membutuhkan kemauan untuk manusia beradaptasi mencari cara hidup dengan lingkungannya.

Hujan, sudah jadi keseharian. Aktifitas manusia tidak lalu berhenti karena hujan. Manusia mau beraktifitas, pindah dari satu tempat ke tempat lainnya untuk menunaikan tugas atau memenuhi kebutuhannya. Ketika hujan turun, berbagai cara dilakukan manusia, memakai paying, jas hujan, mobil, atau nekat lari-larian mencari tempat teduh antara lokasi awal ke lokasi selanjutnya.

Berbagai metode ditemukan untuk melengkapi diri menghadapi hujan. Tekstil ditemukan dan dipakai yang lebih tahan air. Ada jaket untuk menahan dinginnya temperatur ketika hujan lebih sering turun.

Ada yang beradaptasi. Tidak untuk  membuat metode menghadapinya agar tidak menghalangi aktivitas, tetapi agar manusia merasa nyaman dengan rutinitas kesehariannya itu. Manusia tidak selalu beradaptasi dengan kepentingan mencari metode yang lebih cepat, meningkatkan produktivitas dirinya. Lihat saja kampung-kampung yang dilanda banjir tahunan. Mereka tidak pindah, tidak mengurangi dampak banjir, tetapi justru hidup dengan banjir. Mungkin hanya meninggikan barang-barang di dalam rumah hingga batas level air yang masuk ke dalam rumah. Mereka sudah menyiapkan diri untuk menghadapi banjir karena itu sudah jadi keseharian bagi mereka.

Tanggul dijebol ya karena itu menghalangi keseharian mereka, kebutuhan mereka untuk mendapatkan tempat tinggal. Di mana ada kemauan pasti ada jalan. Di mana ada tembok yang menghalangi mereka dirikan rumah, meskipun hanya dalam bentuk bedeng, dijebol lah tembok itu. Sederhana, manusia bergerak berdasar insentif seperti yang dikatakan pengarang buku Freakonomics.

Lalu kenapa tidak ada yang menciptakan teknologi yang lebih canggih dari jas hujan dan payung untuk seseorang bepergian ketika adaptasi manusia begitu hebatnya dalam bertahan hidup dan rela berbuat demi kenyamanan? Sepertinya memang cukup jas hujan dan payung memenuhi mayoritas kebutuhan manusia di bumi ini. Inovasi-inovasi terjadi dalam batas kebutuhan individu. Tapi tidak tepat juga istilah inovasi dipakai kalau sudah masuk ke level individu. Definisi inovasi di beberapa literatur adalah mengaplikasikan ide di pasar / marketplace. Namanya pasar, tidak ada yang beranggotakan 1 orang. Mungkin lebih tepatnya dikatakan customization payung dan jas hujan kalau untuk dipakai orang tergantung kebutuhan masing-masing. Misalkan payung atau jas hujan dibuat dengan lapisan anti peluru bagi mereka yang paranoid dengan teori konspirasi takut dibidik penembak jitu dari suatu organisasi rahasia. 

Hal yang ingin diangkat pada tulisan ini adalah kebiasaan perorangan untuk membiasakan diri dengan fenomena yang rutin terjadi dalam kesehariannya. Kalau sudah rutin, manusia itu makin lama makin biasa dengan keadaan, dan menyesuaikan diri terhadapnya.

Seperti cerita kodok yang dimasukkan ke panci berisi air panas, dia akan langsung loncat keluar. Tapi ketika kodok ditaruh sejak air masih dingin tapi lama kelamaan panci direbus jadi makin panas, sampai panci panas, kodok beradaptasi dengan kenaikan temperaturnya dan nyaman-nyaman saja sampai mati direbus.

Adaptasi harus kenal batasan juga lah ya. Jangan sampai jadi seperti kodok di panci panas. Adaptasi yang benar ya nilai sendiri-sendiri saja. Indikatornya sederhana: sehat dan bahagia.

Selamat beradaptasi! (tiba-tiba mentok inspirasi menulisnya)

 

About sidewa

Saya hanya seorang manusia biasa yg dipanggil Dewa sejak kecil yang gemar memandang langit² (berkhayal & berpikir).

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Jumlah pukulan

  • 66,485 pukulan

Gravatar


kayanganku is my personal blog. nothing special or specific niche. Just me and my fraction of thought.

Kicau si Dewa (Twitter)

%d bloggers like this: