//
you're reading...
Insight, Management

Perkembangan Manajemen di Indonesia: lebih baik dari atas atau dari bawah?

Sedang kuliah Pemikiran Manajemen yang banyaknya meninjau buku Daniel A. Wren berjudul History of Management Thought, membuat saya berpikir bagaimana sejarah perkembangan manajemen di Indonesia. Apakah ada perkembangan dari manajemen di Indonesia? Saya agak pesimis menjawabnya, tetapi penelitian harus dilakukan untuk benar-benar memberikan jawaban dari pertanyaan ini.

Menurut saya, pemerintahan Indonesia memiliki sistem manajemen yang campur aduk. Birokrasi top-down dibawa dan diterapkan oleh VOC di Indonesia. Adanya pemerintahan dengan badan perwakilan seperti DPR dalam perumusan kebijakan publik, adalah salah satu contoh dari birokrasi top-down yang dianut oleh VOC. Tetapi sempat ada perubahan manajemen, atau mungkin dicoba untuk diubah, ketika Indonesia diduduki oleh Jepang, yang membuat sistem pengklusteran dengan gaya manejemen bottom-up. Salah satu contoh gaya bottom-up ini adalah pembentukan organisasi RT-RW hingga kelurahan dan kecamatan.  Apakah benar bahwa Jepang membawa gaya manajemen bottom-up dan VOC membawa gaya manajemen top-down? Ini jadi pertanyaan untuk penelitian lainnya.

Kasus bermunculan, ketika kedua gaya ini digabungkan, salah satunya adalah usaha mengumpulkan data kependudukan. Salah satu gaya top-down yang terlihat adalah melakukan survei penduduk tanpa adanya banyak partisipasi dari rakyatnya, kecuali perwakilan yang menjadi surveyor (biasanya juga disubkon ke perusahaan surveyor, bukan bertindak sebagai rakyat). hasil survei kependudukan ini diragukan kebenaran datanya, karena kesalahan bisa terjadi dari kedua belah pihak, salah satu contohnya adalah si surveyor yang mengada-adakan data, atau individu yang disurvei yang tidak memberikan data dengan benar.  Ketidakjelasan data ini seringkali dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu yang memang berkepentingan dalam kesediaan data ini.

Kemudian pengelolaan atau pengumpulan data dengan e-ktp, mencoba meminta partisipasi rakyat untuk datang sendiri ke kecamatan dengan bantuan penyebaran informasi dan panggilannya melibatkan pejabat RW dan RT. Hasil dari pengumpulan data dengan e-ktp ini rasa-rasanya masih bisa lebih dipertanggungjawabkan. Kita baru bisa lihat hasilnya nanti saat pemilihan Presiden, itupun kalau e-ktp sudah beres.

Kecuali ada pihak yang memang memanfaatkan kekurangan-kekurangan dalam penggunaan teknologi e-ktp ini. Mungkin jika pihak ini memiliki kapasitas membobol database e-ktp, manipulasi bisa dilakukan. Tapi saya optimis hal ini sulit dilakukan  karena tenaga intelektual yang mampu melakukan ini, hacker atau cracker, memiliki kemandirian individu dan mereka (atau kebanyakan dari mereka) peduli dengan nasib tanah air ini. Karena data adalah kunci dari demokrasi. Jikapun ada yang terpengaruh untuk membobol, bisa jadi ada pejuang intelektual yang akan turun tangan membantu negaranya. Ini hanya pemikiran positif saya saja. Belum tentu persepsi saya ini benar sih.

Lalu apa gaya yang paling pas untuk manajemen di Indonesia? Saya sendiri tidak tahu, tetapi saya rasa keseimbangan antara top-down dan bottom-up harus dicari. Belum tentu proporsinya 50:50 untuk memberikan kesetimbangan dalam pengelolaan pemerintahan. Bisa jadi lebih berat di bottom-up karena negara kita menganut sistem demokrasi. Tapi bisa juga yang tepat adalah lebih berat di top-down karena masyarakat kita masih belum cukup “dewasa” dalam memilih. Paling penting adalah mencari kesetimbangan antara keduanya.

About sidewa

Saya hanya seorang manusia biasa yg dipanggil Dewa sejak kecil yang gemar memandang langit² (berkhayal & berpikir).

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Jumlah pukulan

  • 66,485 pukulan

Gravatar


kayanganku is my personal blog. nothing special or specific niche. Just me and my fraction of thought.

Kicau si Dewa (Twitter)

%d bloggers like this: