//
you're reading...
Uncategorized

Sudah Subuh

Beginilah jadinya. Sudah dikasih tapi tidak disyukuri, jadinya ya syukurin. Bermula dari satu hari lalu, terasa bosan setiap pagi dini hari harus mengangkat badan penuh beban ini dari kasur yang nyaman. Angkat kepala, pindah pantat tepakkan kaki keluar kamar, keluar rumah mencari makan untuk sahur. Dingin-dingin biasanya dipaksakan berjalan dari satu warung nasi ke warung nasi lainnya yang terlihat lebih sepi, biar tidak antri lama kataku. Akhirnya keinginan menjadi kenyataan sekarang yang malah jadi penyesalan dan membuka hati ini untuk lebih mensyukuri nikmat.

Dimulai beberapa hari yang lalu terasa beda. Malas sekali badan ini hingga berpikir sudah saja tidak lakukan rutinitas itu. Sudah saja makan tengah malam ,benar-benar tengah, lalu rebahkan badan ini hingga Subuh menjelang, atau sekitar saat itulah (hingga terbit fajar nyatanya). Benar saja, tidurku tidak lagi terpotong dengan rutinitas bangun dini hari. Untung lampu kumatikan agar lelap ku tertidur tidak dibangunkan oleh Ibu dan Bapak empunya rumah. Nikmat tidurku kukata. Tidak lagi terpotong-potong tanggung tidurku kubilang. Tidurku bisa full 4 jam bahkan lebih.

Saking nikmatnya merasakan tidur 4 jam (nyatanya lebih), terasa kurang badan ini kalau tidak tidur lama. Sudah saja satu hari badanku hibernasi hingga malam menjelang. Hingga akhirnya malam itu kutempuh jalan karena sadar bagian tengah perut terasa membunyikan genderang perang memaksa badan untuk menapaki jalan gelap ke tempat ramai. Sudah saja beli banyak sekalian berhubung mereka menuntut perang. Banyak jumlah berujung tidak selesai dalam waktu singkat. Sudah saja untuk rutinitas dini hari sisanya meskipun jumlah segitu tidaklah cocok untuk mengisi tenaga satu hari apalagi petangnya ada niat eksploitasi energi pukul-pukul bola. Ya sudahlah sekali malas tetap malas. Hidup malas katanya.

Tibalah malam ini. Ketika badan terasa lelah habis pukul-pukul bola. Kegiatan besok padat merayap seperti jalan di Sudirman saat sore menjelang. Meskipun waktu pulang malam ini ideal untuk mengambil posisi rebahan, tapi tetap saja badan ini membandel ingin main dulu katanya. Hingga jarum jam lewat tengah malam, sudah saja tidur katanya. Mimpi yang seru tidak terceritakan mampir malam itu. Mimpi berlanjut, telinga ini mendengar panggilan dari Bapak yang bilang “Wa.. sahur.. Jam setengah empat”, mulut dengan S.O.P. (Standard Operating Procedure) berkata “iya.. pak”. Mimpi pun berlanjut dengan serunya hingga mimpi pun mengatakan sesuatu tentang penyesalan, tiba-tiba kuterbangun sadar mengucap Istighfar. Kok bisa mimpi seperti itu kataku sambil terus membayangkan kembali serpihan-serpihan mimpi itu. Hm.. pikir.. pikir.. sambil dengar suara azan. Kata si hati kecil, “oh sudah Subuh”. Tiba-tiba terdengar letupan suara hati gagap tercengang, “Waduh.. Sudah Subuh!!!”

About sidewa

Saya hanya seorang manusia biasa yg dipanggil Dewa sejak kecil yang gemar memandang langit² (berkhayal & berpikir).

Discussion

One thought on “Sudah Subuh

  1. ramadhan ini, cukup sekali deh gw mengalami “sudah subuh”, rasanya langsung lemes, padahal mungkin cuma sugesti..

    Posted by melanotmeli | September 26, 2008, 7:01 am

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Jumlah pukulan

  • 66,485 pukulan

Gravatar


kayanganku is my personal blog. nothing special or specific niche. Just me and my fraction of thought.

Kicau si Dewa (Twitter)

%d bloggers like this: