//
you're reading...
Business, Informasi, Insight

Falsifikasi Vs. Verifikasi

Two pathSains berkembang lebih banyak dengan metode verifikasi dibandingkan falsifikasi. Bertolak belakang dengan verifikasi, meskipun saling melengkapi, pengembangan dengan falsifikasi lebih bersifat terbuka pada hal-hal baru. Arti secara harfiah, falsifikasi adalah melihat dari sudut pandang kesalahan. Dengan menganggap teori itu salah, dan dengan segala upaya dibuktikan kesalahan tersebut hingga mutlak salah, dibuatlah teori baru yang menggantikannya. Tengok saja teori geosentris Ptolemi yang tergantikan oleh teori heliosentrisnya Copernicus.

Zaman Ptolemi sains berkembang dengan gaya verifikasi, pencarian kebenaran (atau pembenaran) dilakukan dengan berlandaskan bahwa geosentris adalah benar. Dengan fisika Aristotle, Ptolemi mengajukan teori peredaran bulan, matahari dan planet-planet dengan bumi sebagai pusatnya. Berbagai macam pembuktian mengarah kepada pembenaran, hingga suatu ketika peneliti dari timur tengah menemui kesulitan ketika melakukan perhitungan berdasarkan teori tersebut. Sehingga dimulailah pengembangan teori dengan cara falsifikasi.

Nicolaus Copernicus dengan konsekuensi nyawa mengajukan alternatif, teori heliosentris pembantah teori Ptolemi yang berdiri kuat dan gagah di singgasana kekuasaan ilmu di kala itu. Kaum mayoritas di kala itu menolak dan menggantung (dalam arti sebenarnya) penggagas teori
tersebut dengan mengatakan ilmu sesat baginya. Penemuan demi penemuan dari zaman ke zaman akhirnya mengungkap teori heliosentris lebih mudah dimasukkan ke dalam kerangka berpikir. Revolusi ilmu peredaran tata surya terjadi hingga kini dan sudah dapat dipetik berbagai teori lain yang mendukung heliosentris. Heliosentris berjaya, sampai kapan?

Kisah heliosentris dan geosentris adalah cerita lama. Cerita serupa juga terjadi ketika peneliti mencoba memecahkan misteri pembentukan alam semesta. Dua kubu pernah bertarung dari posisi yang sama tinggi. Teori Ledakan Besar (Big Bang) dan Teori Kondisi Tetap (Steady State). Hingga akhirnya yg menjadi pukulan telak yg perlahan2 membuat Steady State jatuh adalah penemuan CMB atau Cosmic Microwave Background. Penemuan CMB membuat orang2 berbondong mendukung Teori Big Bang, yang kini terus berkembang dengan metode verifikasi.

Sepertinya di dunia sains kemenangan diukur dari jumlah orang yg setuju.. ini tentu saja kemenangan semu dari pertarungan yang tidak benar2 ada. Peneliti ketika membuat teori yang membantah teori lain bukannya cari ribut, tapi cari perumusan yg lebih dekat dengan keadaan alam sebenarnya. Dengan perumusan yang lebih baik, dapat dilakukan berbagai perkiraan2 [atau peramalan] kejadian alam sebenarnya.

Saintis diuji ketika harus berbesar hati untuk menerima sesuatu yang baru setiap saat. Apalagi klo teorinya lah yang diganti. Harusnya berbagai falsifikasi terus dilakukan hingga akhirnya jelas menuju kesalahan ataukah kebenaran. Mau tidak mau masyarakat memilih teori yang dianggap lebih banyak didukung. Memang betul banyak didukung belum tentu benar, oleh karenanya harus terjadi proses falsifikasi untuk mencari kelemahan dan mencari kebenaran dibaliknya.

Seorang rekan blog pernah berkata, belum tentu suatu hal itu benar atau salah namun yang terpenting adalah bagaimana memilah kebenaran dari berbagai kesalahan dan menyikapinya dengan bijak. Cara apapun yang dipakai, entah itu pembenaran atau penyalahan. Harus disikapi dengan bijak.

Seberapa penting sih kebenaran dan kesalahan dalam hidup ini?

Sudah selesaikah pembahasannya? Stay tuned..

About sidewa

Saya hanya seorang manusia biasa yg dipanggil Dewa sejak kecil yang gemar memandang langit² (berkhayal & berpikir).

Discussion

6 thoughts on “Falsifikasi Vs. Verifikasi

  1. waw! keren om pembahasannya!
    saya jadi mengerti…
    kapan2 saya masukkan ke blogtainment!

    :::::: blogtainment : acara rutin di blog saya ttg kabar2 di wordpress dan sekitarnya :::::::::::

    Waduh.. ngasi komennya cepet bgt boss.. baru juga diposting. moga2 bisa berguna ya..

    Posted by antobilang | March 30, 2007, 10:28 pm
  2. Saya lebih condong ke falsifikasi ah…

    Posted by ikram | April 1, 2007, 7:46 am
  3. Hmmm… falsifikasi. Ilmu pengetahuan bergerak karena penyangkalan dan pembuktian bahwa satu teori dibuktikan salah. Karl Popper. Susah betul dulu saya mengejanya. Ya, saya stay tuned. Menunggu selanjutnya.

    Salam

    pejalanjauh.blogspot.com

    Posted by zenrs | April 1, 2007, 7:55 pm
  4. boss.. pengen nanya nih.. dimana sih demarkasi antara mana yang dianggap ilmu dan bukan ilmu? trus apakah semua teori dapat di falsifikasikan?

    Posted by marucill | April 29, 2007, 10:26 pm
  5. ilmu itu luas cakupannya. Tadinya mau jawab, batasannya adalah nalar. Tp ada juga ilmu yg ga bisa dicapai nalar manusia. Jadi apa ya batasannya? Satu yang jelas.. ilmu itu jauh dari kebodohan dan memang tujuannya menjauhkan kebodohan. Klo ilmu yang mengaku ilmu itu menuju pembodohan.. sudah pasti itu bukan ilmu.

    Posted by ddewa | May 2, 2007, 9:53 am
  6. saya sangat tertarik akan ilmu pengatahuan tentang alam semesta. seandainya suatu saat saya punya kesempatan untuk melakukan penelitian & mempunayi kesempatan untuk mempublikasikan hasil temuan saya,,saya akan senang hati membagi pengetahuan yang saya dapat & mengungkapkan kebenarannya. tapi kapan ya…..????????????????gmn sih caranya supaya bisa gabung jadi ilmuwan tapi langsung praktek????jenuh sama teori yang monoton. Pa tolong kasih infonya ke e-mail saya ya…….trims

    Posted by miss Andromaeda | May 24, 2007, 7:38 pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Jumlah pukulan

  • 66,485 pukulan

Gravatar


kayanganku is my personal blog. nothing special or specific niche. Just me and my fraction of thought.

Kicau si Dewa (Twitter)

%d bloggers like this: