//
you're reading...
Uncategorized

5-Essence Jazz Quintet

7 Maret 2007, Lima sosok pengajar dari sekolah seni ArtEZ, Belanda, menapakkan kakinya di bangunan tua milik ITB. 5-ESSENCE JAZZ QUINTET, itulah sebutan acara yang mengisi keheningan malam itu di Aula Barat. Dengan memadukan bunyi Organ Hammond John Hondorp, alunan terompet Jan Wessels, trombone Jeroen Rol, bass RuudOuwehand dan drum Joost van Schaik suasana malam itu menjadi kenangan yang tidak akan terlupakan. Kenangan benar-benar diramu dalam acara musik ini, tradisi dipadukan dengan suara-suara kini. Bahkan penonton yang sebagian adalah golongan senior dikejutkan dengan permainan “Telaga Biru” oleh 5-Essence.


Penulis dan koleganya kembali diberi tanggung jawab oleh ITB untuk memegang acara yang berlangsung dengan 600 lebih penonton ini. tanggung jawab yang diberikan kepada penulis adalah bagian panggung dan disain. Karena untuk peralatan sudah ada yang handle, penulis hanya merancang backdrop, rancangan dapat dilihat di multiply penulis. Backdrop yang sederhana ini ternyata dipinta oleh musisi sebagai kenang2an selepas acara tersebut. Menjadi sebuah kebanggaan tersendiri bagi penulis bahwa ada apresiasi dari si musisi terhadap disainnya. Apresiasi serupa juga terjadi saat penulis mendesign acara serupa sebelumnya, Ensemble Severin.
Acara yang seharusnya pukul 8 malam sudah berlangsung terpaksa ditunda beberapa menit karena keterlambatan dan kesalahan teknis. Keterlambatan terjadi karena peristiwa tragis di landas pacu Yogyakarta, kecelakaan pesawat Garuda yang menewaskan sebagian penumpangnya. Ternyata pesawat Garuda tersebut adalah pesawat yang akan mereka naiki untuk menuju Jakarta yang kemudian menuju Bandung dengan menggunakan kendaraan darat. Karena kejadian tersebut dan beberapa kejadian baru-baru ini, musisi jadi kapok dengan angkutan udara Indonesia, sehingga mereka memutuskan memakai kendaraan darat merayap yang panjang melintang di atas rel besi. Sepertinya mereka belum tahu kalau kendaraan serupa pernah anjlok beberapa kali dari relnya. Musisi tiba pukul 6sore itu di Stasiun Hall dan dijemput oleh Homman sedikit terlambat 30 menit menuju hotel. Sudah barang tentu mereka harus istirahat sebentar untuk menyiapkan fisik untuk acara bersangkutan. Tibalah mereka di Aula Barat pukul 8 dengan penonton yang sudah berjejalan di depan pintu menunggu untuk masuk. Namun penonton dipaksa untuk bersabar kembali, karena peralatan musik tidak bekerja sesuai dengan yang diharapkan.

Tapi tetap saja penonton terlihat puas usai acara, bahkan beberapa musisi dibuat tak berdaya ketika diminta memberikan tutorial singkat dan tanda tangan. Jan dibelakang panggung memberikan tutorial kepada pemuda asal tanah air yang ingin belajar meniup terompet hingga akhirnya dipotong oleh teman panitia karena musisi harus diberangkatkan ke hotel untuk istirahat. Kejadian yang menarik adalah ketika Jeroen pada saat penampilan mengatakan “This is the last tune” kepada penonton yang membalas dengan nada kecewa. Entah nada kecewa ini hanya keramahan penonton saja atau memang benar kecewa, namun musisi dengan keterampilan bermusiknya membawa penonton untuk teriakkan “We want more” ketika ITB memberikan cinderamata angklung kepada musisi yang menandakan akhir acara. Memang sudah direncanakan oleh musisi, bahwa “the last tune” tadi bukanlah “the last tune” sebenarnya.. beberapa panitia sudah diberi tahu sebelumnya. Akhirnya 5-Essence menyajikan “the last tune” yang benar-benar “the last tune”, dasar performan, selalu saja ada ide untuk meramaikan acara.

acara usai sekitar pukul 11 malam itu. Penonton meminta tanda tangan dan Jan ahli terompet diminta sedikit tutorial oleh salah satunya. Jan dengan senang hati memberikannya.. namun kok lama sekali tutorialnya, akhirnya salah satu teman panitia menengahi tutorial itu agar musisi dapat beristirahat. Akhirnya musisi berkemas menuju Savoy Homan. Sesaat sebelum berangkat, Jeroen turun lagi.. ternyata mereka ingin meminta backdrop yg penulis rancang sebagai kenang2an. wow surprise sekali. dengan senang hati keesokan harinya Penulis dan temannya mengantarkan backdrop itu.
Setelah sampai Homan, penulis dan rekan mengantar musisi jalan2 ke Dago dan cihampelas sebelum mereka berangkat ke Jakarta untuk menghadiri undangan dari Erasmus Huis sebelum akhirnya pulang ke tanah air mereka.
Check out my weblog for my design..

About sidewa

Saya hanya seorang manusia biasa yg dipanggil Dewa sejak kecil yang gemar memandang langit² (berkhayal & berpikir).

Discussion

2 thoughts on “5-Essence Jazz Quintet

  1. Kenapa formal sekali?

    Posted by ikram | March 20, 2007, 6:00 pm
  2. masih cari gaya yg pas,pak..

    Posted by ddewa | March 20, 2007, 9:27 pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Jumlah pukulan

  • 66,538 pukulan

Gravatar


kayanganku is my personal blog. nothing special or specific niche. Just me and my fraction of thought.

Kicau si Dewa (Twitter)

%d bloggers like this: